Kata seniman bahwa setiap karya yang mereka buat memiliki ruh dan berjiwa sesuai tema yang dibuatnya. Misal sebuah lukisan pemandangan. Jika dilihat dan diteliti dengan seksama lalu ditelaah serta dirasakan, maka pemandangan tersebut akan menghadirkan rasa tersendiri pada diri si penikmat. Sebaliknya jika pengamat yang tidak mengerti atau faham kesenian, mereka hanya akan memandang lukisan tersebut sebagai pemandangan yang biasa-biasa saja tanpa dapat merasakan ruh ataupun jiwa yang terkandung didalamnya. Benar, semua tergantung pada individu masing-masing insan sesuai bidang dan tingginya ilmu yang dimilikinya.
Kedua gambar keadaan diatas menunjukkan bahwa kualitas manusia ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu yang mereka miliki. Kenapa begitu? Tentu saja sudah menjadi kepastian hukum alam jika yang berilmu akan mendapat lebih banyak kemulyaan daripada yang lebih rendah ilmunya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang presiden misalnya, seorang pilot misalnya, atau dokter? Semua tidak lain karena ilmu yang mereka kuasai. Sedang penguasaan itu sendiri ada bertingkat-tingkat jenisnya. Umpama seorang dokter, ada dokter ahli, dokter mahir sampai dokter gadungan. Dan setiap jenis dokter tentu berbeda-beda pula cara pengobatan yang mereka gunakan sesuai daya faham, pengalaman serta kejeniusan mereka. Yang ahli mungkin sekali dengar keluhan, melihat dan menekan bagian tubuh si sakit dia akan langsung tahu apa penyebabnya. Lalu yang dokter gadungan? Bisa ditebak sendiri kan?. Misal misal dan misal diatas hanyalah permisalan tingkat jiwa sebuah ilmu serta karakter laku dan pelakunya.
Bahasa jiwa sangatlah luas bermakna. Jiwa orang yang sedang bahagia akan terlihat menyenangkan karena senyumnya, jiwa yang marah akan terlihat kecut karena mata merah dan raut mukanya. Semua tergantung pada jiwa sebuah keadaan, jiwa sebuah kondisi, jiwa sebuah persoalan, sampai tak terhitung berapa lagi jiwa buah-buah lain banyaknya. Semua tentang jiwa…
Kok keadaan punya jiwa. Kondisi, persoalan juga?!
Apa sih jiwa itu? Kenapa harus ada jiwa? Dimana itu jiwa?
Tanya punya jawaban, bahwa jiwa adalah sekumpulan kata yang terdiri dari ruh serta antek-anteknya sampai pada kata nyawa. Memang ribet, tapi kata-kata diatas sudah bisa mewakili pemahaman tentang jiwa.
Lalu kenapa harus ada jiwa atau yang dikatakan sebagai ruh sampai nyawa segala? Harus! Jika tidak, bagaimana ada kehidupan? Yang mati saja sebenarnya juga masih berjiwa, hidup dan lebih kekal.
Semua Maha Karya Tuhan seperti batu, pohon, kursi, sampai tangan serta kakipun punya jiwanya masing-masing. Jangan lupa, termasuk buku karena buku juga terbuat dari kayu, mobil dari besi dll. Batu adalah benda mati, tapi dialam batunya terdapat jiwa yang mendiamkannya. Ruhnya bergejolak, tapi jiwanya memang harus patuh pada raganya, raga sebuah batu tanpa nyawa, jika bergerak bukan batu namanya. Dan begitulah batu, tidak seperti manusia yang bebas menggerakkan jiwa melalui raga bernyawa sesuai keinginannya.
Yang jelas, didunia nyata ini hanya ada dua jenis makhluk yang bernyawa, yaitu manusia dan hewan. Sedang tumbuhan dapat tumbuh berkembang tanpa nyawa bebas karena ia hanya setengah bernyawa. Dan semua benda mati tidak bernyawa, ia hanya berjiwa yang artinya ia mempunyai ruh pada maqom gaibnya sendiri. Jika dijabarkan kegaibannya, Malaikat berada pada maqom tetap disisi Tuhan karena tugas beserta kepatuhannya tanpa nafsu. Sedang yang berakal dan bernyawa seperti manusia jika meninggal dunia hingga datangnya kiamat akan memiliki konsekwensi maqom sesuai amal perbuatannya, hanya ada dua pilihan, syurga atau neraka, begitu juga Jin (sesuai maqom gaibnya). Dan Iblis beserta antek-anteknya? Semua sudah tahu akan kemana mereka.
Bagaimana dengan maqom hewan, tumbuhan dan benda-benda mati di dunia ini yang katanya punya jiwa juga itu? Akan ada dunia netral antara syurga dan neraka disana, Wallohu A’lamu bis Showaf mungkin dari situlah nanti akan terbentuk lagi lingkaran kehidupan yang baru bagi mereka, dunia baru, kembali terbentuk planet-planet, bumi, mulai ada kehidupan mula, Dinosaurus, Adam pertama dan seterusnya.. kebenaran sejati pasti akan muncul karena kiamat sudah dekat. siapa yang tidak percaya akan datangnya kiamat? bahkan teori fisika secara gamblang mengatakan "setiap benda memiliki massa, setiap yang bernyawa akan menemui ajalnya. dan bukankah bumi termasuk didalamnya? kini mulai rapuh dan rapuh...
Semoga bermanfaat. Wassalam...